“Titip Ibuku Ya Allah”
September 2, 2008
Semoga artikel ini berkenan dan sahabat2 milis tidak berkeberatan menerimanya dan semoga bermafaat.
“Nak, bangun… udah adzan subuh. Sarapanmu udah ibu siapin di meja…” Tradisi ini sudah berlangsung 20 tahun, sejak pertama kali aku bisa mengingat.
Kini usiaku sudah kepala 3 dan aku jadi seorang Karyawan disebuah Perusahaan Tambang, tapi kebiasaan Ibu tak pernah berubah. “Ibu sayang… gak usah repot-repot Bu, aku dan adik-adikku udah dewasa.” pintaku pada Ibu pada suatu pagi. Wajah tua itu langsung berubah. Pun ketika Ibu mengajakku makan siang di sebuah restoran. Buru-buru kukeluarkan uang dan kubayar semuanya. Ingin kubalas jasa Ibu selama ini dengan hasil keringatku. Raut sedih itu tak bisa disembunyikan.
Kenapa Ibu mudah sekali sedih? Aku hanya bisa mereka-reka, mungkin sekarang fasenya aku mengalami kesulitan memahami Ibu karena dari sebuah artikel yang kubaca. orang yang lanjut usia bisa sangat sensitive dan cenderung untuk bersikap kanak-kanak. Tapi entahlah….Niatku ingin membahagiakan malah membuat Ibu sedih. Seperti biasa, ibu tidak akan pernah mengatakan apa-apa. Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya,
“Bu, maafin aku kalau telah menyakiti perasaan Ibu. Apa yang bikin Ibu sedih?”
Kutatap sudut-sudut mata Ibu, ada genangan air mata di sana. Terbata-bata Ibu berkata, Tiba-tiba Ibu merasa kalian tidak lagi membutuhkan Ibu. Kalian sudah dewasa, sudah bisa menghidupi diri sendiri. Ibu tidak boleh lagi menyiapkan sarapan untuk kalian, Ibu tidak bisa lagi jajanin kalian. Semua sudah bisa kalian lakukan sendiri”
Ah, Ya Allah, ternyata buat seorang Ibu .. bersusah payah melayani putra-putrinya adalah sebuah kebahagiaan. Satu hal yang tak pernah kusadari sebelumnya. Niat membahagiakan bisa jadi malah membuat orang tua menjadi sedih karena kita tidak berusaha untuk saling membuka diri melihat arti kebahagiaan dari sudut pandang masing-masing.
Diam-diam aku bermuhasabah…Apa yang telah kupersembahkan untuk Ibu dalam usiaku sekarang? Adakah Ibu bahagia dan bangga pada putera putrinya ? Ketika itu kutanya pada Ibu.
Ibu menjawab “Banyak sekali nak kebahagiaan yang telah kalian berikan pada Ibu. kalian tumbuh sehat dan lucu ketika bayi adalah kebahagiaan. Kalian berprestasi di sekolah adalah kebanggaan buat Ibu. Kalian berprestasi di pekerjaan adalah kebanggaan buat ibu. Setelah dewasa, kalian berprilaku sebagaimana seharusnya seorang hamba, itu kebahagiaan buat Ibu. Setiap kali binar mata kalian mengisyaratkan kebahagiaan di itulah kebahagiaan orang tua.”
Lagi-lagi aku hanya bisa berucap “Ampunkan aku ya Allah kalau selama ini sedikit sekali ketulusan yang kuberikan kepada Ibu. Masih banyak alasan ketika Ibu menginginkan sesuatu.”
Betapa sabarnya Ibuku melalui liku-liku kehidupan. Sebagai seorang wanita karier seharusnya banyak alasan yang bisa dilontarkan Ibuku untuk “cuti” dari pekerjaan rumah atau menyerahkan tugas itu kepada pembantu. Tapi tidak! Ibuku seorang yang idealis. Menata keluarga, merawat dan mendidik anak-anak adalah hak prerogatif seorang ibu yang takkan bisa dilimpahkan kepada siapapun. Pukul 3 dinihari Ibu bangun dan membangunkan kami untuk tahajud. Menunggu subuh Ibu ke dapur menyiapkan sarapan sementara aku dan adik-adik sering tertidur lagi…
Ah, maafin kami Ibu … 18 jam sehari sebagai “pekerja” seakan tak pernah membuat Ibu lelah.. Sanggupkah aku ya Allah ?
“Nak… bangun nak, udah azan subuh .. sarapannya udah Ibu siapin di meja..”
Kali ini aku lompat segera.. kubuka pintu kamar dan kurangkul Ibu sehangat mungkin, kuciumi pipinya yang mulai keriput, kutatap matanya lekat-lekat dan kuucapkan terimakasih Ibu, aku beruntung sekali memiliki Ibu yang baik hati, ijinkan aku membahagiakan Ibu…”.
Kulihat binar itu memancarkan kebahagiaan. .. Cintaku ini milikmu, Ibu… Aku masih sangat membutuhkanmu. .. Maafkan aku yang belum bisa menjabarkan arti kebahagiaan buat Dirimu..
Sahabat.. tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan kalimat “aku sayang padamu… “, namun begitu, Rasulullah menyuruh kita untuk menyampaikan rasa cinta yang kita punya kepada orang yang kita cintai karena Allah. Kita mulai dari orang terdekat yang sangat mencintai kita …
Ibu dan Ayah walau mereka tak pernah meminta dan mungkin telah tiada. Percayalah..kata-kata itu akan membuat mereka sangat berarti dan bahagia.
Wallaahua’lam
“Ya Allah,cintai Ibuku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan Ibu…” dan jika saatnya nanti Ibu Kau panggil, panggillah dalam keadaan khusnul khatimah. Ampunilah segala dosa-dosanya dan sayangilah ia sebagaimana ia menyayangi aku selagi aku kecil”
“Titip Ibuku ya Allah”
Entry Filed under: Celoteh. .
14 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed













1.
abiyasa | September 2, 2008 at 7:22 am
ibu..ibu..ibu..bapak..
tetaplah mencintai dan hormatilah mereka karena Nya …
2.
Mama Shasa | September 2, 2008 at 7:36 am
terharu baca ceritanya… a good posting.. bisa jd bahan renungan..
3.
wati | September 2, 2008 at 8:31 am
hiks sedih bacanya… jadi almarhumah ibu…
Buat yg masih punya ibu.. jgn sia2kan kesempatan utk selalu membahagiakan beliau..
4.
gus | September 2, 2008 at 9:12 pm
jadi sedih.inget ayahku…
5.
Amier Chan | September 3, 2008 at 1:19 am
“Ya Alloh Ampuni Dosa kedua orang tuaku dan sayangilah mereka serta berikan yang terbaik untuk mereka”. Amien
Subhanalloh,.. Alloh telah menciptakan seorang ibu yang ah.. tak terhitung jasanya.
6.
salifameera | September 3, 2008 at 7:20 am
subhanallahm, saya masih blm bisa bahagiain ibu..
hix hix
7.
asep | September 4, 2008 at 1:23 pm
makasih teteh eti, asep jadi terharu dan ingat kedua orang tua sep di kampung ingin rasa memeluk mereka berdua setelahnya baca artikel ini. mdh2an asep bisa bahagiakan kedua orang tua asep. amien
8.
dhie | September 5, 2008 at 3:06 am
Hiks…hiks…. Ibu, maafkan Ananda yang sering kali membuat Ibunda menangis…. Kangen Ibunda…
9.
ardian | September 5, 2008 at 6:34 am
Refreshing sedikit… keren mengingatkanku sama dua sosok orangtuaku. Duh kapan ya bisa ‘ngoleh-ngolehin’ cucu untuk mereka…
10.
N1144 | September 14, 2008 at 2:00 pm
Subhanallah….
Syukron dah ngingetin….
Jadi pengen cepet2 mudik….
ngerasa belum berbakti nih,
hiks…hiks…
Ya Allah ampuni aq,
Ibu…. Bapak… maafkan aq
11.
alislami | Oktober 9, 2008 at 9:33 am
BIsmillah
Keren abis………………..
Jadi inget ibu dirumah, pa lagi setiap akan pergi merantau ibu melepasku dengan derai air mata.
Dan malam itu ku pergi mencari tiket di Stasion, nyampe malam aku belum pulang karena hujan, maka kuputuskan mampir ke warnet. Kebetulan aku ga bawa HP, setelah hujan agak reda jam 10 malam aku pulang, sebelum nyampe rumah kutemui ibu dan bapak jalan berdua di jalan mau mencariku, padahal hujancukup deras dan suasana pedesaan yang sangat sepi. Subhanalloh aku begitu terharu pada kasih sayangnya.
Ibuku Tiga hari ga doyan makan setiap aku akan pergi merantau
Ibu juga ga bisa tidur ketika mendengar kabar kurang baik tentangku.
Ibu, semoga jannah menjadi tempat kita
Buat semua saudara2ku, mari kita muliakan ibu kita. Jangan sampai kita tidak bisa meraih surga sementara ibu kita masih ada.
12.
gina | Oktober 15, 2008 at 1:39 pm
sering kali kita malu melakukan sesuatu karena gengsi di liat oleh mereka… padahal… banyak hal yang ingin sekali ku sampaikan padanya… ingin membuatnya bangga.. dan slalu ingin memberikan yang terbaik untuknya…
mudah2an …
kita semua menjadi anak2 yang bisa membuat orang tua bangga !
dan selalu membuatnya bahagia !
aamiin…
13.
ian | Desember 22, 2008 at 4:16 pm
Ya Allah, ampunilah dosa kedua orangtua ku ..
14.
nezz | Maret 3, 2009 at 6:26 am
duh…jadi sedih bacanya….
jadi inget slama ini jarang bilang makasih dan ngebahagiain orang tua ….
ya allah…ampunilah dosa orangtua ku…
amin amin ya rabbal al amin…